Sudd enly Bl ue Ada jaket biru, tas biru, dan oh tidak, bukan pikiran yang biru. Tiba-tiba semua biru. Suddenly blue. And you are coming through that door. Membuatku terpaksa membuka mata ini yang masih terlalu lelah. Magic. “Hello, ups, maaf.” Oh, darling, saya tidak akan pernah memaafkan siapapun yang membangunkanku. Tapi tidak denganmu. Ada yang biru, suddenly blue. Begitu hening, membunuh 2,3 tarikan nafas, berhenti. Sejak kapan, aku lupa pernah memiliki perasaan ini. Sejak kapan kamu berdiri disitu. Mungkin beberapa menit yang lalu, kau sudah datang diam-diam, menatapku yang terlelap. Menyentuh wajahku, mendengarkan desah nafasku, memelukku melalui tatapan itu. Yah, tatapan itu sekarang. Persis seperti sekarang. “Hello, are you okay, buddy?” Ah, kamu membangunkanku untuk kedua kalinya. Padahal baru sekejap aku membayangkan bagaimana kau bisa tiba disini. “Oh, ya, saya baik-baik saja. Tapi bagaimana kamu masuk ke kamar ini? It was locked.” ...